KELURAHAN KOTABARU MELAYANI DENGAN JUJUR
Kelurahan Kotabaru Jalan Juwadi No. 29 Kotabaru Gondokusuman Kota Yogyakarta 55224
 Agus Hari Yadi,    03 Desember 2019 SEJARAH KOTABARU
SEJARAH KOTABARU

SEJARAH KOTABARU:
BAGIAN DARI SEJARAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
DAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
Oleh: R. Bagus Sumbarja, S.Sos., MM.


Kotabaru adalah sebuah wilayah kelurahan yang menjadi bagian kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Kota ini merupakan kota bersejarah, penuh dengan peninggalan bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur Eropa. Kotabaru ditetapkan sebagai kawasan heritage dan menjadi kawasan penopang keistimewaan DIY. Ini tercantum di perdais (Peraturan Daerah Istimewa DIY). Namun sayangnya saat ini peninggalan sejarah tersebut hanya tersisa sekitar 45% saja, yang sisanya banyak yang hancur atau dihancurkan untuk kepentingan tertentu. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas bagaimana peran Kotabaru Yogyakarta dalam perjalanan sejarah peradaban masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan juga bagian dari peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dikarenakan sejarah Kotabaru tidak dapat dilepaskan dari peran DIY dari perjuangan kemerdekaan negara Indonesia. Kotabaru dengan segala fasilitas bangunannya yang modern pernah menjadi bagian dari pelaksanaan Ibukota sementara Negara Indonesia di awal kemerdekaan yaitu tahun 1946.


Mengingat sejarah Kotabaru sangat penting untuk diketahui, dipahami dan dikenang bagi generasi saat ini dan akan datang, maka tulisan ini merupakan salah satu dari upaya untuk mewujudkan semangat tersebut. Tulisan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu sejarah Kotabaru sebelum kemerdekaan Indonesia 1945 dan sejarah Kotabaru setelah kemerdekaan Indonesia 1945. Pada periode tersebut akan diuraikan bagaimana peran penting Kotabaru dalam proses sejarah tersebut, baik dalam bidang politik, keamanan, ekonomi dan sosial budaya yang lain.


A. Masa Sebelum Kemerdekaan Indonesia 1945
Perkembangan perekonomian global membuat politik pemerintahan Belanda di Indonesia mengalami perubahan. Belanda dalam urusan ekonomi telah mendorong berlakunya politik pintu terbuka atau dalam istilah Belanda disebut “opendeur politiek”. Politik pintu terbuka memberikan kesempatan bagi bangsa lain untuk melakukan penanaman modal internasional di wilayah jajahan Belanda, termasuk di Indonesia dan Yogyakarta. Pemerintah Belanda memberi kesempatan orang-orang asing untuk menyewa tanah di Indonesia untuk jangka waktu yang panjang sehingga banyak para kapitalis dari berbagai negara seperti Jerman, Perancis, Belgia, Italia, Inggris, Amerika, Jepang, dan lain-lain mengambil kesempatan ini. 1
Hal tersebut dalam konteks Kerajaan Yogyakarta sudah sesuai dengan peraturan agraria yang berlaku di Yogyakarta. Peraturan mengenai tanah yang dijadikan perkebunan telah diatur dalam Agrarische Wet (Undang-Undang Agraia). Undang-Undang Agraria berpengaruh pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) sehingga banyak bermunculan pabrik gula di Yogyakarta. Perkebunan tebu yang luas pada di wilayah Yogyakarta membuat banyak pabrik gula berdiri, antara yang terletak di Pandokan, Pundong, Pleret, Barongan, Gesikan (Bantul), Demak Ijo, Salikan, Kalasan, Tanjung Tirto, Beran, Godean, Medari, Cebongan (Sleman), Sewugalur (Kulon Progo).2
Perkembangan perindustrian pada masa itu membuat banyak pelaku bisnis dari Belanda yang datang ke Yogyakarta, jumlahnya semakin bertambah dengan pesat seiring masa keemasan produksi gula. Belanda banyak membangun sarana dan fasilitas pendukung di Yogyakarta seperti jaringan transportasi Kereta Api, Listrik, telepon, Kantor Asuransi, Perbankan, Hotel, Gereja, Rumah Sakit, dan Sekolah-Sekolah. Semakin bertambahnya orang-orang Eropa dan Belanda yang datang, maka kebutuhan pemukiman diperlukan untuk memperluasnya. Keraton Yogyakarta atas dasar Undang-Undang Disentralisasi (Decentralisatie Wet) dan peraturan Wijkenstelsel yaitu peraturan pengelompokan tempat tinggal orang-orang Eropa yang terkonsentrasi di satu tempat, maka muncullah Rijksblad van Sultanaat Djogjakarta No. 12 tahun 1917. Isi peraturan ini terdiri dari 11 bab yang berisi tentang pemberian lahan beserta wewenangnya supaya dapat didirikan bangunan, jalan, taman beserta perawatannya dengan ketentuan yang diatur oleh pihak kasultanan. Penggunaan lahan tersebut dibebani pajak dan uang sewa supaya menguntungkan kasultanan. Penggunaan tanah ditangani oleh sebuah komisi yang diberi nama Komisi pengguna tanah yang mendapat uang muka penggunaan dari kesultanan yang bunganya 5% per tahun. Pihak kasultanan dan karesidenan yang menentukan anggota komisi ini. Sebagai pelaksana proyek pembuatan kawasan ini adalah Departemen van Sultanaat Warken dengan ketuanya yaitu Ir. L.V.R. Bijleveld.3

----------------------------
1 8Onghokham,”Elite dan Monopoli dalam Perspektif Sejarah”, jurnal Prisma no. 2, Jakarta: Pustaka LP3ES, hlm.11.
2 Ari Setyastuti, dkk, Mosaik Pusaka Budaya Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, 2003, hlm.12
3 Tim Penyusun, Kota Yogyakarta 200 Tahun: 7 Oktober 1756-7 Oktober 1956. Yogyakarta, 1956, hlm.40-41.


Berdasarkan pengaturan tersebut, maka pada tahun 1917 -1920 dibangulah kota dengan nama Kotabaru yang ditempati oleh orang-orang Eropa, terutama orang-orang Belanda. Kawasan tersebut disebut Kotabaru karena sebuah kota yang baru didirikan dengan konsep kota taman (garden city) sebagai kawasan elit untuk orang-orang Eropa. Arsiteknya bernama Thomas Karsten, arsitek dan ahli perencanaan wilayah permukiman yang juga terlibat dalam perencanaan beberapa proyek pembangunan di berbagai kota, seperti Batavia, Pasar Johar Semarang, hingga Stasiun Solo Balapan. Konsep Kotabaru dibuat berbeda dengan Batavia yang mirip kota-kota di Belanda, Thomas Karsten membangun Kotabaru dengan mencontoh London, Inggris, meskipun arsitektur bangunannya bergaya Eropa secara umum. Mengusung konsep garden city, kawasan Kotabaru dilengkapi dengan boulevard dan banyak jalan-jalan arteri. Dibangun pula berbagai fasilitas yang lengkap, seperti pusat olahraga yang sekarang dikenal dengan Kridosono. Di pusat olahraga ini terdapat seperti lapangan bola dan lapangan tenis. Ada sekolah Algemeene Middelbare School (AMS) yang saat ini menjadi SMAN 3 Yogyakarta, Christelijke MULO School yang saat ini menjadi SMA Bopkri I, Normal School yang saat ini menjadi SMP 5. Dibangun pula Rumah Sakit Petronella yang sekarang menjadi Rumah Sakit Bethesda, serta ada pula tempat ibadah yang pertama, yaitu Gereja Kristen, yang kemudian disusul dengan Gereja Katolik yang sekarang menjadi Gereja Kotabaru.
Kotabaru telah menjelma menjadi kawasan elit yang menjadi tempat tinggal orang-orang Eropa hingga Jepang menguasai Indonesia termasuk Yogyakarta pada tahun 1942. Pada tahun 1942 warga Eropa di Kotabaru banyak meninggalkan Yogyakarta untuk menyelamatkan diri dan rata-rata menuju Australia melalui Cilacap. Jepang menjadikan kawasan pemukiman bangsa Eropa Kotabaru tersebut menjadi pusat militer Jepang. Bangunan-bangunan perumahan dan fasilitas-fasilitas umum dijadikan fasilitas pendukung pemerintahan Jepang,, terutama militer Jepang dan sebagian lagi disewakan pada penduduk pribumi kalangan atas sebagai tambahan penghasilan. Gereja Santo Antonius dijadikan gudang senjata dan amunisi tentara Jepang, Gereja Kristen HKB dijadikan penjara wanita Belanda, bekas pangkalan Militer Belanda di timur Kridosono dijadikan pangkalan militer Jepang (Kidobutai).4 Hal ini terjadi sampai masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945.


B. Masa Setelah Kemerdekaan Indonesia 1945
Masa kemerdekaan Negara Kesatuan Republik (NKRI) telah tiba yaitu tahun 1945. Pada masa setelah kemerdekaan ini terjadi beberapa peristiwa penting dalam sejarah Kotabaru.

-------------------------------
4 Hernowo Adi Saputro (2017). Perubahan Fungsi dan Dampak Sosial Kawasan Kotabaru Tahun 1917 – 1946. Skipsi. Jurusan Sejarah, Universitas Sanata Darma Yogyakarta.


Diantaranya adalah pertempuran antara warga Yogyakarta dan sekitarnya yang dikenal dengan serbuan Kotabaru 7 Oktober 1945, Menjadi bagian dari Ibukota Sementara Indonesia, pembangunan masjid Syuhada di Kotabaru tahun 1952.


1. Serbuan Kotabaru tanggal 7 Oktober 1945
Kemerdekaan Indonesia yang diploklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 memberikan dampak terhadap pergerakan rakyat Indonesia diberbagai wilayah untuk memberikan perlawanan dan perebutan aset-aset vital diseluruh Indonesia, termasuk di Yogyakarta. Di Kotabaru terjadi upaya pelucutan senjata Jepang di Kidobutai Kotabaru yang awalnya dilakukan melalui perundingan pada tanggal 6 Oktober 1945, namun perundingan gagal. Pada tanggal 7 Oktober 1945 rakyat menyerang Kidobutai Kotabaru sehingga terjadi pertempuran yang sengit. Tentara Jepang kewalahan dan akhirnya menyerah. Dalam pertempuran Kotabaru, pihak rakyat gugur 21 orang dan luka-luka 32 orang
sedang pihak Jepang meninggal 9 orang 20 orang luka-luka. Jenazah para pahlawan tersebut sebelum dimakamkan, disemayamkan lebih dahulu di Gedung Nasional Yogyakarta. Dari 21 korban, 18 orang dimakamkan di Semaki (Taman Makam Pahlawan) sedangkan yang 3 orang dimakamkan di Karangkajen dan Kauman. 5
Serbuan Kotabaru pada sebenarnya dilakukan oleh para pemuda Yogyakarta dan dibantu oleh pemuda-pemuda dari luar Yogyakarta seperti pemuda Magelang dan pemuda Ambarawa (Semarang). Hubungan yang baik antara pemuda dari Yogyakarta, Magelang dan Ambarawa terjalin baik karena adanya kemudahan transportasi kereta yang menghubungkan ketiga tempat tersebut. Sehingga pada saat serbuan Kotabaru, pemuda Yogyakarta dibantu oleh pemuda Magelang dan Ambarawa dalam wadah Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan dibantu pejuang-pejuang dari masyarakat. Persaudaran ini juga berlanjut pada saat terjadinya pertempuran Ambara pada Desember 1945, yang mengakibatkan banyak pemuda Yogyakarta yang gugur di Ambarawa. Pada saat serbuan Kotabaru, senjata utama yang digunakan adalah bambu runcing dan fokus pertempuran dilaksanakan di markas tentara Jepang hingga berhasil direbut, dilucuti dan dijadikan tawanan perang.6
Serbuan Kotabaru adalah gerakan pertama yang dilakukan oleh rakyat Indonesia setelah Proklamasi kemerdekaan dan mempelopori munculnya gerakan-gerakan bersenjata di daerah lain untuk melawan penjajah baik Belanda bersama sekutu dan Jepang. Serbuan Kotabaru

-------------------------------
5 Suratmin, dkk, 1982 : 229). Suratmin, dkk. Sejarah Perlawanan Terhadap Inperalisme Dan Kolonialisme Di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta : Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1982.
6 Wawancara dengan PELTU (PURN) R. Soekirno (91 tahun), seorang pelaku serbuan Kotabaru di Kotabaru Yogyakarta, tanggal 23 November 2019.


memberikan makna penting bagi perjuangan bangsa Indonesia secara keseluruan setelah proklamasi dan membangkitkan semangat seluruh rakyat di Indonesia.


2. Menjadi Ibukota Negara Indonesia (Sementara)
Akibat situasi genting pada awal kemerdekaan memaksa ibukota negara pindah sementara ke Yogyakarta atas tawaran Hamengkubuwono IX yang disambut baik oleh IR. Soekarno. Kotabaru sebagai bagian dari Yogyakarta yang pada tahun 1946 memiliki fasilitas umum dan bangunan-bangunan yang besar dan kondisi yang baik, maka sebagian bangunan di Kotabaru dijadikan sebagai pusat pemerintahan Indonesia sementara. Secara umum Kotabaru menjadi penopang pemerintahan Indonesia pusat untuk sementara dengan merubah fungsi bekas-bekas gedung militer Jepang menjadi perumahan dan pusat pemerintahan. Juga rumah-rumah yang besar dimanfaatkan sebagai gedung pemerintahan seperti gedung Departemen Sosial yang terletak di belakang Gereja Kotabaru. Pada masa ini Kotabaru mempunyai fungsi yang penting guna mendukung fasilitas, sarana dan prasarana beroperasinya Ibukota sementara.


3. Pembangunan Masjid Syuhada Kotabaru
Pembangunan masjid Syuhada merupakan moment penting yang terjadi di Kotabaru paska kemerdekaan. Pembangunan Masjid Syuhada Yogyakarta dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat muslim pada umumnya dan secara khusus memberi penghargaan kepada masyarakat muslim di Yogyakarta yang banyak menyumbangkan bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Lebih dari itu juga dimaksudkan sebagai monumen guna memperingati para pahlawan yang gugur syahid mempertahankan proklamasi kemerdekaan RI terutama pada pahlawan Serbuan Kotabaru 7 Oktober 1945, sehingga nama masjid diberi nama Syuhada yang berarti pejuang atau pahlawan yang telah gugur dalam perjuangan. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1950 dan pada saat peremiannya 20 September 1952 dihadiri oleh presiden Ir.Soekarno. Masjid tersebut merupakan tanda cinta Republik kepada Yogyakarta atas penggabungan Yogyakarta ke NKRI dan sempat menjadi Ibukota negara sementara.
Pendirian masjid ini menjadi tonggak sejarah perubahan struktur masyarakat Kotabaru yang awalnya sebagai kawasan elit bangsa Eropa menjadi kawasan yang didominasi penduduk pribumi yang beragama Islam sejak jaman penjajahan Jepang. Sehingga semangat untuk mempunyai masjid diwujudkan dengan pendirian masjid Syuhada ini. Semangat keislaman dan perjuangan menjadi lekat dalam fisik bangunan Masjid Syuhada dan masjid ini sekaligus menjadi simbol dan kebanggaan masyarakat Kotabaru sampai saat ini.


(66 nilai)
Pencarian
Agenda Akan Datang

Maaf, belum ada agenda untuk bulan ini

Polling
Apakah Website ini bermanfaat ?

Hasil Polling
Sangat Bermanfaat58.06%
Cukup Bermanfaat3.23%
Bermanfaat3.23%
Kurang Bermanfaat3.23%
Statistik Pengunjung
Hari Ini 49 Kemarin 47 Bulan Ini 763 Tahun Ini 8939 Total Pengunjung 8981
Lokasi Kantor
Video Youtube
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)
Kota Yogyakarta

NO2

O3

CO

SO2

PM10


Kosentrasi PM 2.5 per Jam

Tautan Terkait